PEGGY studio photo digital 2 (Photo Outdoor/Indoor, Cetak Photo, Kartu Undangan) di Jl. Laksamana(Barat SPBU Bhakti Seraga), Singaraja

Google Website Translator Gadget

Sabtu, 31 Desember 2011

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR   19   TAHUN  2005
TENTANG
STANDAR  NASIONAL  PENDIDIKAN


DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


Menimbang     :    bahwa dalam  rangka melaksanakan ketentuan Pasal 35 ayat  (4), Pasal 36 ayat (4), Pasal 37 ayat (3),  Pasal 42 ayat (3), Pasal 43 ayat (2),  Pasal  59  ayat  (3),  Pasal  60  ayat  (4),  dan  Pasal  61  ayat  (4) Undang-Undang  Nomor  20  Tahun  2003  tentang  Sistem Pendidikan Nasional,    perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan;
     
Mengingat       :    1. Pasal  5  ayat  (2)  Undang-Undang  Dasar  Negara  Republik Indonesia Tahun 1945;

                               2. Undang-Undang  Republik  Indonesia Nomor  20  Tahun  2003 tentang  Sistem  Pendidikan  Nasional  (Lembaran  Negara Tahun  2003 Nomor  78  Tambahan  Lembaran Negara Nomor 4301); 


MEMUTUSKAN:

Menetapkan    :    PERATURAN  PEMERINTAH  TENTANG  STANDAR NASIONAL  PENDIDIKAN

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1.      Standar  nasional  pendidikan  adalah  kriteria minimal  tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2.      Pendidikan  formal  adalah  jalur  pendidikan  yang  terstruktur dan berjenjang yang  terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
3.      Pendidikan  nonformal  adalah  jalur  pendidikan  di  luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
4.      Standar  kompetensi  lulusan  adalah  kualifikasi  kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
5.      Standar  isi  adalah  ruang  lingkup  materi  dan  tingkat kompetensi  yang  dituangkan  dalam  kriteria  tentang kompetensi  tamatan,  kompetensi  bahan  kajian,  kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. 
6.      Standar  proses  adalah  standar  nasional  pendidikan  yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada  satu  satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
7.      Standar  pendidik  dan  tenaga  kependidikan  adalah  kriteria pendidikan  prajabatan  dan  kelayakan  fisik  maupun  mental, serta pendidikan dalam jabatan.
8.      Standar  sarana  dan  prasarana  adalah  standar  nasional pendidikan  yang  berkaitan  dengan  kriteria  minimal  tentang ruang  belajar,  tempat  berolahraga,  tempat  beribadah, perpustakaan,  laboratorium,  bengkel  kerja,  tempat  bermain, tempat  berkreasi  dan  berekreasi,  serta  sumber  belajar  lain, yang  diperlukan  untuk  menunjang  proses  pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
9.      Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan  pengawasan kegiatan  pendidikan  pada  tingkat  satuan  pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar  tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
10.    Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan  besarnya  biaya  operasi  satuan  pendidikan  yang  berlaku selama satu tahun.
11.    Standar  penilaian  pendidikan  adalah  standar  nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. 
12.    Biaya  operasi  satuan  pendidikan  adalah  bagian  dari  dana pendidikan  yang  diperlukan  untuk  membiayai  kegiatan operasi  satuan  pendidikan  agar  dapat  berlangsungnya kegiatan pendidikan yang  sesuai  standar nasional pendidikan secara teratur dan berkelanjutan. 
13.    Kurikulum  adalah  seperangkat  rencana  dan  pengaturan mengenai  tujuan,  isi,  dan  bahan  pelajaran  serta  cara  yang digunakan  sebagai  pedoman  penyelenggaraan  kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
14.    Kerangka  dasar  kurikulum  adalah  rambu-rambu  yang ditetapkan  dalam  Peraturan  Pemerintah  ini  untuk  dijadikan pedoman  dalam  penyusunan  kurikulum  tingkat  satuan pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan.
15.    Kurikulum  tingkat  satuan  pendidikan  adalah  kurikulum operasional  yang  disusun  oleh  dan  dilaksanakan  di  masing-masing satuan pendidikan.
16.    Peserta  didik  adalah  anggota  masyarakat  yang  berusaha mengembangkan  potensi  diri  melalui  proses  pembelajaran yang  tersedia  pada  jalur,  jenjang,  dan  jenis  pendidikan tertentu.
17.    Penilaian  adalah  proses  pengumpulan  dan  pengolahan informasi  untuk  mengukur  pencapaian  hasil  belajar  peserta didik.
18.    Evaluasi  pendidikan  adalah  kegiatan  pengendalian, penjaminan,  dan  penetapan  mutu  pendidikan  terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap  jalur,  jenjang, dan jenis  pendidikan  sebagai  bentuk  pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan. 
19.    Ulangan  adalah  proses  yang  dilakukan  untuk  mengukur pencapaian  kompetensi  peserta  didik  secara  berkelanjutan dalam  proses  pembelajaran,  untuk  memantau  kemajuan  dan perbaikan hasil belajar peserta didik .
20.    Ujian  adalah  kegiatan  yang  dilakukan  untuk  mengukur pencapaian  kompetensi  peserta  didik  sebagai  pengakuan prestasi  belajar  dan/atau  penyelesaian  dari  suatu  satuan pendidikan.
21.    Akreditasi  adalah  kegiatan  penilaian  kelayakan  program dan/atau  satuan  pendidikan  berdasarkan  kriteria  yang  telah ditetapkan.
22.    Badan Standar Nasional Pendidikan yang  selanjutnya disebut BSNP  adalah  badan  mandiri  dan  independen  yang  bertugas mengembangkan,  memantau  pelaksanaan,  dan mengevaluasi standar nasional pendidikan;
23.    Departemen  adalah  departemen  yang  bertanggung  jawab  di bidang pendidikan;
24.    Lembaga  Penjaminan  Mutu  Pendidikan  yang  selanjutnya disebut LPMP adalah unit pelaksana  teknis Departemen yang  berkedudukan  di  provinsi  dan  bertugas  untuk  membantu Pemerintah  Daerah  dalam  bentuk  supervisi,  bimbingan, arahan,  saran,  dan  bantuan  teknis  kepada  satuan  pendidikan dasar  dan  menengah  serta  pendidikan  nonformal,  dalam berbagai  upaya  penjaminan  mutu  satuan  pendidikan  untuk mencapai standar nasional pendidikan;
25.    Badan  Akreditasi  Nasional  Sekolah/Madrasah  yang selanjutnya disebut BAN-S/M adalah badan  evaluasi mandiri yang  menetapkan  kelayakan  program  dan/atau  satuan pendidikan  jenjang  pendidikan  dasar  dan  menengah  jalur formal dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
26.    Badan  Akreditasi  Nasional  Pendidikan  Non  Formal  yang selanjutnya disebut BAN-PNF  adalah  badan  evaluasi mandiri yang  menetapkan  kelayakan  program  dan/atau  satuan pendidikan jalur pendidikan nonformal dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
27.    Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi yang selanjutnya disebut  BAN-PT  adalah  badan  evaluasi  mandiri  yang menetapkan  kelayakan program dan/atau  satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
28. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan.

BAB  II
LINGKUP,  FUNGSI,  DAN  TUJUAN

Pasal  2

(1)    Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi:
          a.  standar isi; 
          b.  standar proses; 
          c.  standar kompetensi lulusan; 
          d.  standar pendidik dan tenaga kependidikan; 
          e.  standar sarana dan prasarana;
          f.  standar pengelolaan;
          g.  standar pembiayaan;dan 
          h.  standar penilaian pendidikan.
(2)    Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan  Standar  Nasional  Pendidikan  dilakukan  evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi.
(3)    Standar  Nasional  Pendidikan  disempurnakan  secara terencana,  terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan  tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Pasal  3

Standar  Nasional  Pendidikan  berfungsi  sebagai  dasar  dalam perencanaan,  pelaksanaan,  dan  pengawasan  pendidikan  dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

Pasal  4

Standar  Nasional  Pendidikan  bertujuan  menjamin  mutu pendidikan  nasional  dalam  rangka  mencerdaskan  kehidupan bangsa  dan  membentuk  watak  serta  peradaban  bangsa  yang bermartabat.

BAB  III
STANDAR  ISI

Bagian Kesatu
Umum

Pasal  5

(1).  Standar  isi mencakup  lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai  kompetensi  lulusan  pada  jenjang  dan  jenis pendidikan tertentu.
(2).  Standar  isi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  memuat  kerangka  dasar  dan  struktur  kurikulum,  beban  belajar, kurikulum  tingkat  satuan  pendidikan,  dan  kalender pendidikan/akademik.


Bagian  Kedua
Kerangka  Dasar  dan  Struktur  Kurikulum

Pasal  6

(1)    Kurikulum  untuk  jenis  pendidikan  umum,  kejuruan,  dan khusus pada  jenjang pendidikan dasar dan menengah  terdiri atas:
          a.  kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
          b.  kelompok  mata  pelajaran  kewarganegaraan  dan kepribadian;
          c.  kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
          d.  kelompok mata pelajaran estetika;
          e.  kelompok  mata  pelajaran  jasmani,  olah  raga,  dan kesehatan.
(2)    Kurikulum untuk  jenis pendidikan keagamaan  formal  terdiri atas  kelompok mata  pelajaran  yang  ditentukan  berdasarkan tujuan pendidikan keagamaan.
(3)    Satuan  pendidikan  nonformal  dalam  bentuk  kursus  dan lembaga    pelatihan  menggunakan  kurikulum  berbasis kompetensi yang memuat   pendidikan kecakapan hidup dan keterampilan.
(4)    Setiap kelompok mata pelajaran dilaksanakan  secara holistik sehingga  pembelajaran  masing-masing  kelompok  mata pelajaran mempengaruhi pemahaman dan/atau penghayatan peserta didik.
(5)  Semua  kelompok  mata  pelajaran  sama  pentingnya  dalam menentukan  kelulusan peserta didik  dari  satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah.
(6)    Kurikulum  dan  silabus  SD/MI/SDLB/Paket A,  atau  bentuk lain yang sederajat menekankan pentingnya kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis, kecakapan berhitung, serta kemampuan berkomunikasi.



Pasal  7

(1)    Kelompok  mata  pelajaran  agama  dan  akhlak  mulia  pada SD/MI/SDLB/Paket  A,  SMP/MTs/SMPLB/Paket  B, SMA/MA/SMALB/  Paket  C,  SMK/MAK,  atau  bentuk  lain yang  sederajat  dilaksanakan  melalui  muatan  dan/atau kegiatan  agama,  kewarganegaraan,  kepribadian,  ilmu pengetahuan dan  teknologi,  estetika,  jasmani, olah  raga, dan kesehatan.
(2)    Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian pada  SD/MI/SDLB/ Paket  A,  SMP/MTs/SMPLB/Paket  B, SMA/MA/SMALB/  Paket  C,  SMK/MAK,  atau  bentuk  lain yang  sederajat  dilaksanakan  melalui  muatan  dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani.
(3)    Kelompok  mata  pelajaran  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi pada SD/MI/ SDLB/Paket A, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan  melalui  muatan  dan/atau  kegiatan  bahasa, matematika,  ilmu  pengetahuan  alam,  ilmu  pengetahuan sosial,  keterampilan/kejuruan,  dan  muatan  lokal  yang relevan.
(4)    Kelompok  mata  pelajaran  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi pada  SMP/MTs/SMPLB/Paket  B,  atau  bentuk  lain  yang sederajat  dilaksanakan  melalui  muatan  dan/atau  kegiatan bahasa,  matematika,  ilmu  pengetahuan  alam,  ilmu pengetahuan  sosial,  keterampilan/kejuruan,  dan/atau teknologi  informasi dan komunikasi, serta muatan  lokal yang relevan.
(5)    Kelompok  mata  pelajaran  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi pada  SMA/MA/SMALB/Paket  C,  atau  bentuk  lain  yang sederajat  dilaksanakan  melalui  muatan  dan/atau  kegiatan bahasa,  matematika,  ilmu  pengetahuan  alam,  ilmu pengetahuan  sosial,  keterampilan/kejuruan,  teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.
(6)    Kelompok  mata  pelajaran  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi pada  SMK/MAK,  atau  bentuk  lain  yang  sederajat dilaksanakan  melalui  muatan  dan/atau  kegiatan  bahasa, matematika,  ilmu  pengetahuan  alam,  ilmu  pengetahuan sosial,  keterampilan,  kejuruan,  teknologi  informasi  dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.
(7)    Kelompok mata pelajaran estetika pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/Paket C, SMK/  MAK,  atau  bentuk  lain  yang  sederajat  dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa,  seni dan budaya, keterampilan, dan muatan lokal yang relevan.
(8)  Kelompok mata  pelajaran  jasmani,  olah  raga,  dan  kesehatan  pada  SD/MI/SDLB/  Paket  A,  SMP/MTs/SMPLB/Paket  B, SMA/MA/SMALB/  Paket  C,  SMK/MAK,  atau  bentuk  lain yang  sederajat  dilaksanakan  melalui  muatan  dan/atau kegiatan  pendidikan  jasmani,  olahraga,  pendidikan kesehatan,  ilmu  pengetahuan  alam,  dan  muatan  lokal  yang relevan.


Pasal  8

(1)   Kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan pendidikan dituangkan  dalam  kompetensi  pada  setiap  tingkat  dan/atau semester sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.
(2)    Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)  terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar.
(3)    Ketentuan  mengenai  kedalaman  muatan  kurikulum sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dikembangkan  oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.



Pasal  9

(1)    Kerangka  dasar  dan  struktur  kurikulum  pendidikan  tinggi dikembangkan  oleh  perguruan  tinggi  yang  bersangkutan untuk setiap program studi.
(2)    Kurikulum  tingkat  satuan  pendidikan  tinggi  wajib  memuat mata  kuliah  pendidikan  agama,  pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
(3)    Selain  ketentuan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (2), kurikulum  tingkat satuan pendidikan  tinggi program Sarjana dan  Diploma  wajib  memuat  mata  kuliah  yang  bermuatan kepribadian,  kebudayaan,  serta  mata  kuliah  Statistika, dan/atau Matematika.
(4)    Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kedalaman muatan kurikulum  pendidikan  tinggi  diatur  oleh  perguruan  tinggi masing-masing.


Bagian Ketiga

Beban Belajar

Pasal 10

(1)    Beban  belajar  untuk  SD/MI/SDLB,  SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMLB, SMK/MAK  atau  bentuk  lain  yang sederajat  menggunakan  jam  pembelajaran  setiap  minggu setiap  semester  dengan  sistem  tatap  muka,  penugasan terstruktur,  dan  kegiatan  mandiri  tidak  terstruktur,  sesuai kebutuhan dan ciri khas masing-masing.
(2)  MI/MTs/MA  atau  bentuk  lain  yang  sederajat  dapat menambahkan  beban  belajar  sebagaimana  dimaksud  pada ayat  (1)  untuk  kelompok mata  pelajaran  agama  dan  akhlak mulia  serta  kelompok mata  pelajaran  kewarganegaraan  dan kepribadian sesuai dengan kebutuhan dan ciri khasnya.
(3)    Ketentuan mengenai beban belajar,  jam pembelajaran, waktu efektif  tatap  muka,  dan  persentase  beban  belajar  setiap kelompok  matapelajaran  ditetapkan  dengan  Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP.

 
Pasal 11

(1)    Beban  belajar  untuk  SMP/MTs/SMPLB,  atau  bentuk  lain yang  sederajat  dapat  dinyatakan  dalam  satuan  kredit semester (SKS).
(2)    Beban  belajar  untuk  SMA/MA/SMLB,  SMK/MAK  atau bentuk  lain  yang  sederajat  pada  jalur  pendidikan  formal kategori  standar  dapat  dinyatakan  dalam  satuan  kredit semester.
(3)    Beban  belajar  untuk  SMA/MA/SMLB,  SMK/MAK  atau bentuk  lain  yang  sederajat  pada  jalur  pendidikan  formal kategori mandiri dinyatakan dalam satuan kredit semester.
(4)    Beban belajar minimal dan maksimal bagi satuan pendidikan yang  menerapkan  sistem  SKS  ditetapkan  dengan  Peraturan Menteri berdasarkan usul dari  BSNP.


Pasal 12

(1)    Beban  belajar  pada  pendidikan  kesetaraan  disampaikan dalam  bentuk  tatap  muka,  praktek  keterampilan,  dan kegiatan mandiri yang terstruktur sesuai dengan kebutuhan.
(2)  Beban  belajar  efektif per  tahun  sebagaimana dimaksud pada ayat  (1)  ditentukan  dengan  Peraturan  Menteri  berdasarkan usulan BSNP.

Pasal 13

(1)  Kurikulum  untuk  SMP/MTs/SMPLB  atau  bentuk  lain  yang sederajat, SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat, SMK/MAK  atau  bentuk  lain  yang  sederajat  dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup.
(2)    Pendidikan  kecakapan  hidup  sebagaimana  dimaksud  pada ayat  (1)  mencakup  kecakapan  pribadi,  kecakapan  sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional.
(3)    Pendidikan  kecakapan  hidup  sebagaimana  dimaksud  pada ayat  (1)  dan  (2)  dapat  merupakan  bagian  dari  pendidikan kelompok  mata  pelajaran  agama  dan  akhlak  mulia, pendidikan  kelompok mata  pelajaran  kewarganegaraan  dan kepribadian,  pendidikan  kelompok  mata  pelajaran  ilmu pengetahuan  dan  teknologi,  kelompok  mata  pelajaran pendidikan  estetika,  atau  kelompok  mata  pelajaran pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan.
(4)    Pendidikan  kecakapan  hidup  sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1), (2), dan (3) dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan  yang  bersangkutan  atau  dari  satuan  pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.


Pasal 14

(1)   Kurikulum  untuk  SMP/MTs/SMPLB  atau  bentuk  lain  yang sederajat  dan  kurikulum  untuk  SMA/MA/SMALB  atau bentuk  lain  yang  sederajat  dapat  memasukkan  pendidikan berbasis keunggulan lokal.  
(2)       Pendidikan  berbasis  keunggulan  lokal  sebagaimana dimaksud  pada  ayat  (1)  dapat  merupakan  bagian  dari pendidikan  kelompok  mata  pelajaran  agama  dan  akhlak mulia,  pendidikan  kelompok  mata  pelajaran kewarganegaraan  dan  kepribadian,  pendidikan  kelompok mata pelajaran  ilmu pengetahuan dan  teknologi, pendidikan kelompok  mata  pelajaran  estetika,  atau  kelompok  mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan.
(3)       Pendidikan  berbasis  keunggulan  lokal  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dapat diperoleh peserta didik dari  satuan  pendidikan  yang  bersangkutan  atau  dari  satuan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.


Pasal 15

(1)    Beban SKS minimal dan maksimal program pendidikan pada pendidikan  tinggi  dirumuskan  oleh  BSNP  dan  ditetapkan dengan Peraturan Menteri. 
(2)    Beban  SKS  efektif  program  pendidikan  pada  pendidikan tinggi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.



Bagian Keempat
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Pasal 16

(1)    Penyusunan  kurikulum  pada  tingkat  satuan  pendidikan jenjang  pendidikan  dasar  dan  menengah  berpedoman  pada panduan yang disusun oleh BSNP.
(2)    Panduan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  berisi sekurang-kurangnya:
          a.  Model-model kurikulum  tingkat satuan pendidikan untuk SD/MI/  SDLB/SMP/MTs/SMPLB/SMA/MA/SMALB, dan  SMK/MAK  pada  jalur  pendidikan  formal  kategori standar;
          b.  Model-model kurikulum  tingkat satuan pendidikan untuk SD/MI/  SDLB/SMP/MTs/SMPLB/SMA/MA/SMALB, dan  SMK/MAK  pada  jalur  pendidikan  formal  kategori mandiri; 
(3)    Penyusunan  kurikulum  pada  tingkat  satuan  pendidikan jenjang  pendidikan  dasar  dan  menengah  keagamaan berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP.
(4)    Panduan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3)  berisi sekurang-kurangnya  model-model  kurikulum  satuan pendidikan  keagamaan  jenjang  pendidikan  dasar  dan menengah.
(5)    Model-model  kurikulum  tingkat  satuan  pendidikan sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (2)  dan  (4)  sekurang-kurangnya  meliputi  model  kurikulum  tingkat  satuan pendidikan  apabila  menggunakan  sistem  paket  dan  model kurikulum  tingkat  satuan  pendidikan  apabila menggunakan sistem kredit semester.


Pasal 17

(1)    Kurikulum  tingkat  satuan  pendidikan  SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB,    SMA/MA/SMALB,  SMK/MAK,  atau bentuk  lain  yang  sederajat  dikembangkan  sesuai  dengan satuan  pendidikan,  potensi  daerah/karakteristik  daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.
(2)    Sekolah  dan  komite  sekolah,  atau  madrasah  dan  komite madrasah,  mengembangkan  kurikulum  tingkat  satuan pendidikan  dan  silabusnya  berdasarkan  kerangka  dasar kurikulum  dan  standar  kompetensi  lulusan,  di  bawah supervisi  dinas  kabupaten/kota  yang  bertanggungjawab  di bidang  pendidikan  untuk  SD,  SMP,  SMA,  dan  SMK,  dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK.
(3)    Kurikulum  tingkat  satuan  pendidikan  dan  silabusnya  untuk program  paket  A,  B,  dan  C  ditetapkan  oleh  dinas kabupaten/kota  yang  bertanggungjawab  di  bidang pendidikan  berdasarkan  kerangka  dasar  kurikulum  sesuai dengan  peraturan  pemerintah  ini  dan  standar  kompetensi lulusan.
(4)    Kurikulum  tingkat  satuan pendidikan untuk  setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing  perguruan  tinggi  dengan  mengacu  Standar Nasional Pendidikan.



Bagian Kelima
Kalender Pendidikan/Akademik

Pasal 18

(1)    Kalender  pendidikan/kalender  akademik  mencakup permulaan  tahun  ajaran,  minggu  efektif  belajar,  waktu pembelajaran efektif, dan hari libur.
(2)    Hari  libur  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  dapat berbentuk  jeda tengah semester selama-lamanya satu minggu dan jeda antar semester.
(3)    Kalender pendidikan/akademik sebagaimana dimaksud pada ayat  (1)  untuk  setiap  satuan  pendidikan  diatur  lebih  lanjut dengan Peraturan Menteri.



BAB  IV
STANDAR  PROSES


Pasal 19

(1)    Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara  interaktif,  inspiratif,  menyenangkan,  menantang, memotivasi  peserta  didik  untuk  berpartisipasi  aktif,  serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
(2)    Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan.
(3)    Setiap  satuan  pendidikan  melakukan  perencanaan  proses pembelajaran,  pelaksanaan  proses  pembelajaran,  penilaian hasil  pembelajaran,  dan  pengawasan  proses  pembelajaran untuk  terlaksananya  proses  pembelajaran  yang  efektif  dan efisien.

Pasal 20

Perencanaan  proses  pembelajaran  meliputi  silabus  dan  rencana pelaksanaan  pembelajaran  yang  memuat  sekurang-kurangnya tujuan  pembelajaran,  materi  ajar,  metode  pengajaran,  sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.

Pasal  21

(1)    Pelaksanaan  proses  pembelajaran  sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal  19  ayat  (3)  harus  memperhatikan  jumlah maksimal  peserta  didik  per  kelas  dan  beban  mengajar maksimal  per  pendidik,  rasio maksimal  buku  teks  pelajaran setiap peserta didik, dan rasio maksimal  jumlah peserta didik setiap pendidik.
(2)    Pelaksanaan  proses  pembelajaran  dilakukan  dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis.

Pasal 22

(1)    Penilaian  hasil  pembelajaran  sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal  19  ayat  (3)  pada  jenjang  pendidikan  dasar  dan menengah  menggunakan  berbagai  teknik  penilaian  sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
(2)    Teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) dapat berupa  tes  tertulis,  observasi,  tes  praktek,  dan  penugasan perseorangan atau kelompok.
(3)    Untuk mata  pelajaran  selain  kelompok mata  pelajaran  ilmu pengetahuan  dan  teknologi  pada  jenjang  pendidikan  dasar dan menengah,  teknik  penilaian  observasi  secara  individual sekurang-kurangnya  dilaksanakan  satu  kali  dalam  satu semester.

Pasal 23

Pengawasan  proses  pembelajaran  sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal  19  ayat  (3)  meliputi  pemantauan,  supervisi,  evaluasi, pelaporan,  dan  pengambilan  langkah  tindak  lanjut  yang diperlukan.


Pasal 24

Standar  perencanaan  proses  pembelajaran,  pelaksanaan  proses pembelajaran,  penilaian  hasil  pembelajaran  dan  pengawasan proses  pembelajaran    dikembangkan  oleh  BSNP  dan  ditetapkan dengan Peraturan Menteri.




BAB V
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN


Pasal 25

(1)  Standar  kompetensi  lulusan  digunakan  sebagai  pedoman penilaian  dalam  penentuan  kelulusan  peserta  didik  dari satuan pendidikan.
(2)  Standar  kompetensi  lulusan  sebagaimana  dimaksud  pada ayat  (1)  meliputi  kompetensi  untuk  seluruh  mata  pelajaran atau  kelompok  mata  pelajaran  dan  mata  kuliah  atau kelompok mata kuliah.
(3)  Kompetensi  lulusan  untuk  mata  pelajaran  bahasa menekankan  pada  kemampuan membaca  dan menulis  yang sesuai dengan jenjang pendidikan.
(4)    Kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.